Kesimpulan
Setelah merenungkan ayat-ayat dan hadis-hadis tentang anak yatim, kami menemukan satu kesimpulan yang mengubah cara pandang kami terhadap kemuliaan hidup.
Selama ini kita sering terperangkap pada ukuran duniawi: rumah mewah, mobil mahal, harta berlimpah, padahal Allah telah menegaskan bahwa semua itu bukan tolok ukur kemuliaan.
Dari pengamatan kami, orang yang paling mulia di sisi Allah bukanlah yang paling kaya, tetapi yang paling peduli pada mereka yang kehilangan sandaran hidup.
Menyantuni anak yatim bukan sekadar amal yang menunggu pahala di akhirat, melainkan investasi yang buahnya sudah bisa dirasakan di dunia: ketenangan hati, kelapangan rezeki, dan kemuliaan yang tidak bisa dibeli dengan harta.Pada akhirnya, setiap dari kita memiliki kapasitas untuk menjadi mulia, bukan dengan banyaknya harta, tetapi dengan hadirnya kepedulian bagi anak-anak yatim di sekitar kita.(*)
Editor : DA SikumbangSumber : Masra Andalas

