“Jika pintu air dibuka terlalu besar secara mendadak, kami khawatir akan berdampak pada daerah hilir seperti Lubuk Basung dan Tiku. Karena itu, pembukaan dilakukan bertahap,” ujarnya.
Saat ini, keempat unit turbin PLTA Maninjau masih beroperasi dengan total debit air sekitar 2,7 juta meter kubik.
Sementara itu, Anggota DPRD Agam, Alber, menilai penanganan debit air Danau Maninjau dilakukan melalui koordinasi yang baik sejak bencana terjadi pada akhir November 2025.
Ia menyebutkan, pembukaan pintu air dilakukan berdasarkan hasil musyawarah antara tokoh masyarakat, pemerintah nagari, dan pihak PLN, dengan mempertimbangkan kondisi hulu dan hilir.
“Alhamdulillah, sampai sekarang pembukaan pintu air secara bertahap tidak menimbulkan banjir di wilayah hilir seperti Tiku,” kata Alber.
Politikus Partai Demokrat itu juga mengapresiasi keterbukaan manajemen PLTA yang memberikan akses kepada tokoh masyarakat untuk menyaksikan langsung proses pembukaan pintu air.
Senada, Wali Nagari Koto Malintang, Hendra Yanto, mengatakan bahwa pembukaan pintu air dilakukan dengan penuh kehati-hatian.“Dari yang semula hanya 45 sentimeter, kini bukaan sudah mencapai 155 sentimeter. Elevasi danau yang sebelumnya di atas standar kini berangsur kembali normal,” ujar Hendra.
Meski demikian, ia mengakui masih terdapat warga yang terdampak genangan air. Tercatat sebanyak 72 rumah di Nagari Koto Malintang serta sejumlah lahan pertanian di kawasan salingka danau masih terendam.
“Kami berharap elevasi air danau segera turun sepenuhnya. Warga di tepi danau masih merasa cemas, terutama saat angin kencang dan gelombang tinggi,” kata Hendra. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T