PERTI Persatuan Tarbiyah Islamiyah lahir dari kesadaran para ulama Minangkabau akan pentingnya pendidikan. Syekh Sulaiman Arrasuli pulang dari Makkah 1907 lalu mendirikan halaqah di Surau Tinggi Candung pada 1908.
Halaqah tradisional ini kemudian dimodernisasi menjadi sistem klasikal pada 1926. Madrasah Tarbiyah Islamiyah pertama berdiri di Candung pada tahun yang sama.
Langkah ini diikuti oleh ulama lain seperti Syekh Jamil Jaho, Syekh Abbas Qadi Padang Lawih, dan Syekh Makdum Sawa Lunto. Madrasah-madrasah Tarbiyah Islamiyah bermunculan di seluruh Minangkabau.
Untuk mengurus madrasah yang semakin banyak, para ulama mendirikan Persatuan Madrasah Tarbiyah Islamiyah pada 1928. Inilah cikal bakal lahirnya organisasi Perti.
Tujuan utamanya sederhana, menegakkan kalimatullah dan membentengi umat dari gerakan yang memecah belah. Pada masa itu gerakan Wahabi mulai gencar menyerang amalan tradisional Ahlussunnah wal Jamaah.
Perkembangan Menjadi Ormas dan Partai
PMTI kemudian berkembang menjadi organisasi kemasyarakatan dengan nama Persatuan Tarbiyah Islamiyah. Perti fokus pada pengembangan pendidikan Islam yang berakar pada tradisi Ahlussunnah.
Tokoh muda Sirajuddin Abbas, putra Syekh Abbas Qadi, mendorong Perti untuk berkarya lebih luas. Ia ingin Perti tidak hanya mengurus sekolah tetapi juga berkiprah seperti Muhammadiyah.Tahun 1945, Wakil Presiden Muhammad Hatta menyerukan pembentukan partai politik untuk mendukung kemerdekaan. Perti pun bermetamorfosis menjadi Partai Islam Perti.
Pada masa awal, Partai Perti memiliki 450.000 anggota dan sekitar 100 pesantren. Tokoh-tokohnya duduk di kursi pemerintahan, antara lain Menteri Kesejahteraan Rakyat Sirajuddin Abbas dan Menteri Pembebasan Irian Barat Rusli Abdul Wahid.
Yang dikhawatirkan para ulama akhirnya terjadi, asyik berpolitik membuat pendidikan terbengkalai. Perebutan jabatan mulai menggerogoti soliditas organisasi.
Editor : DA SikumbangSumber : Highlights Youtube UAS

