Pelajaran dari Sejarah Perti
Prof Alaidin Koto menulis buku ini dengan satu tujuan, agar sejarah tidak terulang lagi. Kesalahan masa lalu jangan sampai diulang untuk kedua kalinya.
Pesan utamanya adalah jadikan diri alat untuk organisasi, bukan organisasi alat untuk kepentingan diri. Para pendiri Perti adalah ulama ikhlas yang perhatian pada pendidikan.
Keikhlasan mereka menjadi penyebab organisasi tetap hidup meski diterpa badai. Namun keikhlasan itu pernah dimanfaatkan orang untuk berbuat dosa.
Kini saatnya generasi muda Perti belajar dari sejarah, menguatkan prinsip, dan kembali ke pangkal jalan. Jika sesat di ujung jalan, kembalilah ke pangkal jalan pendidikan.
Perti harus kembali fokus pada lembaga pendidikan karena itulah tempat lahirnya. Meninggalkan pendidikan sama dengan durhaka pada cita-cita pendiri.
Sejarah adalah untuk meneguhkan hati, membuat kokoh dalam prinsip. Tanpa pengetahuan sejarah, orang akan mudah diombang-ambingkan keadaan.Perti dan Hari Sumpah Pemuda
Diskusi ini bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda 28 Oktober, tanggal yang sama dengan kelahiran Perti 1928. Sebuah kebetulan yang sarat makna.
Di akhir perbincangan, Prof Alaidin membacakan puisi tentang bahaya mengkhianati amanah bangsa. Jangan sampai para pemuda hari ini menyumpahi orang tua yang merusak negeri.
Tanda-tanda kehancuran sudah mulai terlihat jika tidak kembali ke jalan yang benar. Bumi Pertiwi hanya tinggal nama jika generasi penerus gagal menjaga warisan.
Perti adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah bangsa Indonesia. Bersama NU, Muhammadiyah, dan Al Washliyah, Perti ikut mewarnai perjalanan Islam di bumi Nusantara.
Editor : DA SikumbangSumber : Highlights Youtube UAS

