Konflik dan Perpecahan 46 Tahun
Memasuki era demokrasi terpimpin, Perti mulai diterpa konflik internal. Isu keterlibatan tokoh dalam PRRI dan tuduhan beraffiliasi dengan PKI memanaskan situasi.
Puncaknya pada tahun 1970, Perti resmi pecah menjadi dua kubu. Kubu Rusli Abdul Wahid dan Tarmizi tetap menggunakan nama Perti, sementara kubu Sirajuddin Abbas menggunakan nama Tarbiyah.
Syekh Sulaiman Arrasuli yang masih hidup mengeluarkan dekret agar semua kembali ke pangkuan organisasi. Namun kubu Rusli Abdul Wahid meragukan keaslian dekret tersebut.
Konflik berlangsung selama 46 tahun, memisahkan saudara, guru, dan murid. Masing-masing pihak hanyut dengan kepentingan politiknya sendiri.
Upaya rekonsiliasi selalu kandas karena ego dan kepentingan kelompok. Para tokoh tua sudah sulit diharapkan untuk bersatu kembali.
Gerakan Alumni dan Islah 2016
Prof Alaidin Koto bersama Prof Munsir Nasution yang kos serumah di Jakarta prihatin melihat kondisi Perti. Mereka berdiskusi panjang selama tiga bulan dan menyimpulkan bahwa alumni harus bergerak.
Himpunan Alumni MTI atau Hamti didirikan di Riau pada 1995. Gerakan ini berjalan secara tersembunyi agar tidak menyinggung para tetua.Hamti menggalang dana dari bank-bank syariah untuk membiayai diskusi dan silaturahim. Mereka terus-menerus menyuarakan pentingnya persatuan tanpa lelah.
Tahun 2016, setelah 46 tahun pecah, Perti akhirnya bersatu kembali. Momentum islah terjadi di Jakarta melalui pertemuan tokoh-tokoh muda dari kedua belah pihak.
Masa transisi berlangsung hingga 2022 untuk memulihkan perasaan lama. Barulah pada 2024 Perti kembali solid dan siap berkarya.
Editor : DA SikumbangSumber : Highlights Youtube UAS

