KABUPATEN AGAM -- Di tengah rentetan bencana hidrometeorologi yang melanda hampir seluruh wilayah Kabupaten Agam, capaian produksi perikanan budidaya justru tercatat melampaui target pada 2025. Namun, di balik angka tersebut, ratusan petani ikan masih berjibaku menanggung kerugian besar.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam mencatat, produksi perikanan budidaya sepanjang 2025 mencapai 33.699,91 ton. Angka ini sedikit di atas target 33.684 ton atau setara 100,05 persen.
Meski demikian, bencana hidrometeorologi yang terjadi pada akhir November 2025 meninggalkan dampak serius. Total kerugian sektor perikanan di Agam ditaksir menembus Rp 82,84 miliar.
Kepala DKPP Agam, Rosva Deswira, mengatakan kerugian terbesar dialami pembudidaya keramba jaring apung (KJA) di Danau Maninjau. Cuaca ekstrem memicu fenomena upwelling yang menyebabkan kadar oksigen di perairan turun drastis.
“Terjadi pembalikan massa air. Oksigen menurun dan gas beracun naik ke permukaan sehingga ikan KJA mati massal,” ujar Rosva kepada wartawan, Minggu (11/1/2026).
Akibat peristiwa tersebut, sekitar 1.428,73 ton ikan nila dilaporkan mati. Nilai kerugian ekonomi mencapai Rp 32,86 miliar. Ratusan petani KJA di nagari sekitar Danau Maninjau seperti Sungai Batang, Tanjung Sani, Duo Koto, Maninjau, hingga Koto Gadang Anam Koto kehilangan modal dan gagal panen.
Bencana juga menghantam sektor pembenihan. Longsor menimbun lahan seluas 31,16 hektare, memusnahkan lebih dari 25 juta benih ikan, 15 ribu induk, serta 37,86 ton pakan. Sejumlah kolam air tenang dan kolam air deras di berbagai lokasi dilaporkan rusak berat.Sementara di kawasan pesisir Tanjung Mutiara, nelayan turut terdampak. Tercatat tiga unit perahu, empat mesin tempel, sekitar 70 alat tangkap, serta satu rumah pengolahan ikan rusak atau hilang akibat bencana.
Secara tahunan, produksi perikanan budidaya Agam justru mengalami peningkatan dibanding 2024 yang berada di angka 33.409,39 ton. Saat itu, KJA Danau Maninjau menjadi penyumbang terbesar dengan 12.451,70 ton, disusul kolam air deras 10.442,24 ton dan kolam air tenang 8.816,12 ton.
Pada 2025, struktur produksi masih ditopang sektor yang sama. Kolam air deras menyumbang 10.720,41 ton, kolam air tenang 8.858,09 ton, dan KJA sebesar 12.949,49 ton. Sisanya berasal dari kolam terpal, keramba irigasi, minapadi, sariban, hingga tambak.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T