Asril dengan antusias menjelaskan, untuk menghadirkan Kopi Bulango, biji kopi diolah secara manual dengan ditumbuk langsung dan disangrai menggunakan wadah tanah liat yang disebut ‘bulango’.
”Kopi Bulango didesain untuk dinikmati tanpa gula. Ini menunjukkan rasa buah alami dari biji kopi yang diolah secara tradisional,” ucapnya membuka rahasia dapur Kopi Bulango.
Kopi Bulango jelas pria bergelar Angku Andaleh ini, dalam pengolahannya mengedepankan aspek ekowisata dengan memanfaatkan hasil perkebunan lokal, dan ramah lingkungan.
Dalam sosialisasi dan pemasarannya, Kopi Bulango digerakkan dan diinisiatori untuk mendukung UMKM dan mengangkat kopi sebagai ikon Kota Bukittinggi.
Sebagai penggagas Kopi Bulango, Asril ingin kopi dijadikan pintu masuk diskusi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal dan penopang ekonomi masyarakat.”Alhamdulillah, selama 9 tahun, Kopi Bulango sudah mampu menembus pasar-pasar tradisional baik di Kota Bukittinggi dan kota lainnya di Ranahminang, serta diharapkan bisa segera dipasarkan secara online,” ucap Asril Angku Andaleh pula.
Meneguk Kopi Bulango kian terasa dengan sepotong bolu dan sebatang rokok. Sehingganya, diskusi di Sabtu pagi jadi kian berarti. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T