Ia menegaskan Thawalib memiliki peran historis penting bagi Padang Panjang dan Indonesia, sejak masa perjuangan kemerdekaan hingga pascakemerdekaan. Karena itu, ia menekankan pentingnya sinergi dengan Pemerintah Kota Padang Panjang dan Kementerian Agama.
“Jangan biarkan Thawalib berjalan sendiri. Kita rapatkan barisan untuk kemajuan Padang Panjang,” ujarnya.
Ketua Pengurus Yayasan Thawalib, Abrar menyampaikan, Thawalib telah menempuh perjalanan panjang lebih dari satu abad. Berawal dari Surau Jembatan Besi, lembaga ini telah melahirkan banyak tokoh nasional dan internasional.
“Sejarah Thawalib bukan untuk dinikmati sebagai nostalgia, melainkan menjadi pijakan menata masa depan yang lebih baik,” katanya.
Sementara itu, Guspardi Gaus menambahkan, Buya Alizar memiliki rekam jejak lengkap sebagai murid, guru, dan pengurus Thawalib.“Kami berharap Buya Alizar menjadi panutan dan uswatun hasanah bagi seluruh civitas akademika, serta mampu melakukan pembenahan dan pembaruan,” ujarnya.
Menurutnya, pembaruan tersebut mencakup penguatan karakter lulusan, pengembangan kurikulum dan silabus, serta formulasi muadalah, sehingga Thawalib tetap relevan dan berdaya saing di tingkat nasional maupun internasional. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T