KABUPATEN AGAM – Suara gemuruh dari arah perbukitan Tanjung Raya pada malam itu menjadi tanda awal petaka. Dalam hitungan menit, air bah bercampur material lumpur dan batu melesat turun, menggulung apa pun yang dilewatinya. Puluhan rumah warga, jembatan, hingga sekolah luluh lantah seketika. Teriakan warga bercampur kepanikan memenuhi udara.
Di kawasan Salingka Danau Maninjau, situasi berubah mencekam. Sebanyak 12 warga hilang dan meninggal, sementara ratusan lainnya berjuang menyelamatkan diri dari banjir bandang yang datang tiba-tiba.
Nagari Bayua menjadi salah satu lokasi yang paling terpukul. Delapan jembatan hanyut, puluhan rumah terseret air, fasilitas ibadah dan sarana air bersih hancur diterjang arus.
Di lima jorong, Kampung Jambu, Sungai Rangeh, Panji, Jalan Batuang, dan Sawah Rang Salayan, warga berlarian di tengah gelap malam mencari tempat aman. 106 orang kini tinggal di pengungsian darurat, sebagian masih syok melihat rumah mereka rata dengan tanah.
“Air datang seperti dinding besar. Warga langsung kabur meninggalkan rumah,” kata Walinagari Bayua, Fajri Hadi, Minggu (30/11/2025).
Di Nagari Maninjau, suasana tak kalah pilu. Lumpur setebal betis menutup jalanan, membuat proses pencarian korban berjalan lambat. Tiga warga telah ditemukan, satu dimakamkan, dua lainnya masih hilang.Posko pengungsian mendadak penuh. Lebih dari 300 warga bertahan dengan peralatan seadanya, menunggu bantuan datang.
Rumah-rumah yang dulu berdiri kokoh kini hanya tersisa puing. Sebuah jembatan balok ambruk, jalan utama terputus, dan satu sekolah dasar tak lagi bisa digunakan. Bahkan kendaraan warga, mobil dan motor hilang terseret arus seolah tak pernah ada.
Di Nagari Sungai Batang, suasana duka menyelimuti pemukiman. Tiga korban, Sumardi, Sukri Yusuf, dan Iqbal ditemukan tak bernyawa. Dua lainnya masih belum diketahui nasibnya.
Rumah rusak, sawah lenyap, dan ternak hanyut. Semua hilang dalam satu malam bencana.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T

