Wilayah yang mengalami kekeringan meliputi Kelurahan Gunung Sarik, Korong Gadang, hingga Kecamatan Nanggalo dengan total luas terdampak mencapai sekitar 2.000 hektare.
Pemerintah melalui PSDA Sumbar dan BWS Sumatera V kini tengah menyusun rencana anggaran untuk perbaikan permanen irigasi.
“Pembangunan fisik direncanakan dimulai pada 2027 atau melalui APBN Perubahan 2026 setelah dokumen perencanaan rampung,” ungkapnya.
Sambil menunggu realisasi proyek, pemerintah berupaya menyediakan solusi sementara agar aktivitas pertanian tetap berjalan.
Langkah darurat dilakukan dengan mengupayakan distribusi air tambahan ke sektor kanan yang paling terdampak.
Selain itu, petani didorong beralih ke komoditas yang lebih tahan terhadap keterbatasan air seperti sayuran dan jagung pakan ternak.Kebijakan ini diambil untuk menekan potensi kerugian akibat terganggunya musim tanam padi.
Pemerintah juga menyalurkan bantuan benih dan pupuk kepada petani terdampak di sejumlah wilayah.
Bantuan tersebut telah disalurkan di Kecamatan Koto Tangah dan Kuranji dengan luas lahan terdampak mencapai 75,32 hektare, sementara untuk Kecamatan Pauh masih dalam tahap persiapan. (*)
Editor : Pariyadi Saputra

