Target pemasaran bukanlah orang yang lewat, melainkan orang yang sedang menggulir layar sambil merasa lelah, panas, atau bosan.
Konten sederhana seperti proses pembuatan es, es yang dituang, topping yang jatuh, atau gelas dingin yang berembun adalah bahasa visual yang dipahami otak manusia tanpa perlu berpikir.
Setelah konten disimpan, dibagikan, atau dikomentari, algoritma akan bekerja.
Keesokan harinya, bukan hanya satu orang yang membeli, tetapi lingkaran kecil yang berulang. Repeat income-nya datang dari kebiasaan.
Jika rasa konsisten dan mudah dipesan, konsumen akan kembali. Modal yang diperlukan relatif kecil, bahan dapat disesuaikan, dan tempat bisa sederhana.
Yang terpenting adalah sistem pemesanan yang jelas dan respons yang cepat. Kesalahan paling sering adalah fokus pada menu, tetapi lupa membangun ingatan.Konsumen tidak kembali karena menu yang panjang, tetapi karena satu minuman yang terasa enak dan diingat.
Ide Keempat: Bisnis Makanan Pedas Siap Antar dengan Promosi Lewat Live
Orang tidak hanya membeli makanan karena lapar. Mereka membeli karena emosi: lelah bekerja, stres, hujan, atau malam yang sepi.
Pedas adalah pelampiasan yang murah. Tren makanan pedas tidak pernah mati; hanya berganti bentuk.
Yang membedakan dalam ide bisnis ini bukanlah resep terlebih dahulu, tetapi cara penjualannya. Live bukan sekadar berjualan, melainkan pertunjukan.
Editor : BN-1

