Umar bergegas menuju rumah Arqam bin Abil Arqam. Bukan untuk menebas leher Rasulullah, melainkan untuk menjatuhkan diri dan menyerahkan nyawanya sebagai perisai pelindung sang Nabi.
Kesimpulan
Begitulah cara kuasa Allah bekerja. Dia tidak membinasakan musuh yang paling keras memusuhi agama-Nya. Allah justru menyentuh relung hatinya, mengubah sang monster menjadi pintu gerbang kejayaan Islam.
Kisah ini merobek keputusasaan kita. Ia membuktikan bahwa hidayah bisa datang dari jalan yang paling tak terduga.
Sekeras apapun hati manusia, ia tetap berada dalam genggaman kasih sayang Allah yang tak terbatas. Bahkan seorang calon pembunuh pun masih diberi kesempatan untuk menangis dan berubah menjadi salah satu penghuni surga yang paling mulia. (*) Editor : DA Sikumbang

