Fathimah memberikan sebuah syarat mutlak. Jika Umar ingin menyentuh lembaran itu, sang monster pembunuh ini harus pergi untuk membasuh dirinya terlebih dahulu.
Umar Menyucikan Diri
Raksasa yang tangannya terbiasa menggenggam pedang itu kini menunduk patuh. Dia melangkah menuju wadah air.
Sensasi dingin menyentuh kulitnya yang memanas. Debu jalanan, keringat kebencian, dan percikan darah luruh terbawa air.
Di momen keheningan yang basah itu, napas Umar yang tadinya memburu kini mereda. Fisiknya disucikan, dan tanpa ia sadari, hatinya sedang disiapkan untuk menerima guncangan terbesar.
Umar Membaca Surat Thaha
Dengan tangan yang kini bersih dan gemetar, Umar kembali. Lembaran usang itu akhirnya berpindah ke telapak tangannya.
Mata Umar perlahan menyapu barisan huruf yang tertera di sana. "Thaha. Kami tidak menurunkan Al-Qur'an ini kepadamu (Muhammad) agar engkau menjadi susah." (QS. Thaha: 1-2).Air Mata Umar Menetes
Umar membacanya bait demi bait. Logikanya yang cerdas dan hatinya yang keras seketika lumpuh total oleh keindahan sastra surgawi tersebut.
"Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah shalat untuk mengingat Aku." (QS. Thaha: 14).
Air mata menetes dari sudut mata sang jagoan Makkah. Kata-kata kasarnya menguap tanpa sisa. "Betapa indah dan mulianya ucapan ini."
Umar Menjadi Perisai Pelindung Rasulullah
Pedang yang dibawa untuk membunuh utusan Allah itu masih ada di pinggangnya, namun niat keji di hatinya telah mati.
Editor : DA Sikumbang

