Kisah Qutaibah bin Muslim, panglima Umayyah penakluk Asia Tengah. Simak strategi perang dan dakwahnya yang melahirkan ulama besar seperti Imam Bukhari.
Qutaibah bin Muslim adalah salah satu panglima Islam terbesar dari Dinasti Umayyah. Ia dikenal karena keberaniannya menaklukkan Asia Tengah dan menyebarkan Islam ke negeri yang belum mengenal tauhid.
Awal Karir dan Pengangkatan
Qutaibah berasal dari kabilah Bahilah. Hajjaj bin Yusuf melihat potensinya dan mengangkatnya sebagai Gubernur Khurasan tahun 72 H. Wilayah perbatasan ini berhasil ia stabilkan dengan kebijaksanaan dan ketegasan.
Penaklukan Transoksiana
Dari Khurasan, ia memulai ekspedisi ke Transoksiana (Mawara An-Nahr). Kota Bukhara ditaklukkan dengan pendekatan dakwah. Ia membangun masjid dan mengajarkan Islam. Penduduk masuk Islam karena melihat keadilan pasukan muslim.
Samarkand ditaklukkan melalui pengepungan dan diplomasi. Penguasa menyerah dengan jaminan keamanan. Khawarazm di utara juga berhasil ditundukkan meski medan berat.
Strategi Dakwah dan Kepemimpinan
Qutaibah tidak hanya mengandalkan kekuatan militer. Ia memadukan perang dengan dakwah. Setiap kota taklukan diberi guru Al-Quran dan kadi. Penduduk diizinkan mempertahankan adat selama tak bertentangan dengan syariat.
Ia memperlakukan pasukan dari berbagai bangsa setara. Loyalitas pasukannya tinggi karena keadilannya. Ia hidup sederhana, membagi harta rampasan secara adil, dan menghabiskan malam dengan ibadah.Warisan Peradaban
Wilayah taklukannya menjadi pusat ilmu pengetahuan. Lahir ulama besar seperti Imam Al-Bukhari, At-Tirmidzi, dan Al-Maturidi. Tanpa penaklukan Qutaibah, Islam mungkin tak menyebar begitu dalam di Asia Tengah.
Ia gugur tahun 96 H di Farab setelah dikhianati pasukannya saat pergantian khalifah. Meski tragis, jasanya abadi.
Penaklukan Qutaibah bin Muslim:
| Wilayah | Tahun | Hasil |
|---|---|---|
| Balkh | 86 H | Benteng Persia jatuh |
| Bukhara | 87-90 H | Penduduk masuk Islam |
| Samarkand | 93-94 H | Menyerah damai |
| Khawarazm | 95 H | Wilayah takluk |
Qutaibah adalah teladan pemimpin berani, cerdas, dan beriman. Ia membuktikan Islam tersebar dengan keadilan, bukan kekerasan. Namanya harum dalam sejarah sebagai panglima yang menggabungkan kekuatan pedang dan kelembutan hati seorang dai. (*)
Editor : DA Sikumbang
