Umar langsung menerkam Sa'id, memukul dan menginjak-injaknya tanpa ampun. Sang raksasa Makkah itu benar-benar kehilangan akal sehatnya.
Melihat suaminya dianiaya, Fathimah melompat untuk melerai. Namun nahas, tangan besar Umar berayun keras menghantam wajah adik kandungnya sendiri.
Keberanian Fathimah yang Menampar Hati Umar
Tamparan itu begitu keras hingga memecahkan kulit wajah Fathimah. Darah segar menetes dari bibir dan pipi wanita lemah tersebut, dan menodai pakaiannya.
Sambil menahan perih dan air mata, Fathimah menatap mata kakaknya yang menyala-nyala. Keberanian aneh tiba-tiba merasuki jiwa wanita itu.
"Wahai musuh Allah! Apakah engkau memukulku karena aku mentauhidikan Allah?" teriak Fathimah menahan isak. "Lakukanlah sesukamu! Kami telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya!"
Hati Batu Umar Mulai Retak
Hening sejenak. Napas Umar tertahan di tenggorokan. Dia menatap ceceran darah di wajah adik yang sebenarnya sangat ia sayangi itu.
Hati batu sang monster tiba-tiba retak. Rasa bersalah yang amat sangat menghantam dadanya. Tangannya yang memegang pedang perlahan turun dan melemas.Dengan suara yang mendadak melembut dan bergetar, Umar meminta kertas yang tadi mereka sembunyikan. "Berikan lembaran itu kepadaku. Aku ingin membacanya."
Syarat Suci dari Fathimah
Fathimah mendekap erat lembaran suci itu di dadanya. Matanya menatap tajam, tak gentar sedikit pun pada pria raksasa di hadapannya.
"Engkau musyrik dan najis! Kitab ini tidak boleh disentuh kecuali oleh orang-orang yang suci."
Editor : DA Sikumbang

