2.000 Hektare Sawah untuk Petani Sumbar: APBN 2026 Dukung Biaya Produksi Rendah ala Sawah Pokok Murah

×

2.000 Hektare Sawah untuk Petani Sumbar: APBN 2026 Dukung Biaya Produksi Rendah ala Sawah Pokok Murah

Bagikan berita
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore. (humas)
Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore. (humas)
DPC PJS Kota Bukittinggi

PADANG (7/3/2026) - Wakil Ketua Komisi IV DPR RI, Alex Indra Lukman, menantang penyuluh pertanian se-Sumatera Barat, mewujudkan produktifitas tanaman padi di tahun 2026.

Petani inovatif Sumatera Barat, ungkap Alex, telah memiliki metode teruji dalam mewujudkan produktifitas itu, yakni bertaman padi dengan metode Sawah Pokok Murah.

“Mendukung metode Sawah Pokok Murah ini, APBN Tahun 2026 telah mengalokasikan bantuan untuk 2.000 hektare sawah bagi petani Sumatera Barat. Jika jatah ini direalisasikan, Insya Allah, produktifitas itu mampu diwujudkan sehingga petani Sumbar tercatat sebagai penghasil beras dengan biaya produksi rendah di Indonesia,” terang Alex dengan nada optimistis.

Fenomena biaya produksi beras yang menentukan harga jual itu diungkapkan Alex, saat bersilaturahmi sekaligus buka puasa bersama Penyuluh Pertanian se-Sumatera Barat, di UNP Hotel & Convention, Sabtu sore.

Hadir perwakilan penyuluh dari Kota Padang, Kabupaten Dharmasraya, Pesisir Selatan dan Agam. Juga hadir Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Pertanian (BPPSDMP) di Kementerian Pertanian, Idha Widi Arsanti serta jajaran.

Pentingnya harga yang bersaing dengan produktifitas tinggi itu disampaikan Alex, menyoroti stok beras dalam negeri yang tersimpan di gudang Bulog per tanggal 22 Desember 2025, telah menembus 3,5 juta ton. Ini merupakan angka terbesar sepanjang sejarah.

“Pertanyaannya, jika produktifitas panen terus ditingkatkan, sementara konsumsi tetap, maka pertanyaannya adalah stok cadangan beras kita ini mau diapakan,” tanya Alex.

“Untuk di ekspor, masih kalah bersaing dengan beras Vietnam yang harga jualnya jauh lebih murah,” tambah Ketua PDI Perjuangan Sumatera Barat itu.

Alex mencontohkan harga jual beras Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) sebesar Rp12.500 per Kg. Beras SPHP ini memiliki patahan (broken) atau menir (pecahan kecil) berada di angka 25-40 persen.

“Beras asal Vietnam, dijual senilai Rp10.000 per Kg dengan kadar broken 5 persen. Jelas, kondisi ini tak akan mampu membuat beras kita bersaing menembus pasar global,” tegas Alex yang juga Ketua Panja Penyerapan Gabah dan Jagung Komisi IV DPR RI.

Editor : Mangindo Kayo
Bagikan

Berita Terkait
Terkini