“Gratis, silakan bawa galon atau botol,” ujarnya.
Kondisi serupa juga dialami warga di Kecamatan Palembayan. Di Jorong Kayu Pasak, Nagari Salareh Aia, ratusan pengungsi masih bergantung pada suplai air bersih yang terbatas.
Wali Jorong Kayu Pasak, Nofril Harman, menyebut saat ini hanya satu sumur bor dan satu unit Pamsimas yang masih berfungsi. Meski dibantu puluhan toren serta suplai air dari mobil tangki, kebutuhan air ratusan jiwa belum sepenuhnya terpenuhi.
“Kalau untuk jangka panjang, satu sumur bor dan Pamsimas jelas tidak cukup. Harus ada tambahan sumber air,” kata Nofril.
Ia menjelaskan, sebelumnya direncanakan pembangunan tujuh titik sumur bor di wilayah tersebut. Namun enam titik gagal direalisasikan karena kondisi tanah yang didominasi batuan keras.
Untuk sementara, kebutuhan air warga masih tertolong oleh suplai dari BPBD, PDAM, Polri, serta relawan. Namun ketergantungan pada bantuan darurat dinilai rawan memicu krisis baru jika pasokan terhenti.
Kepala BPBD Kabupaten Agam, Rahmad Lasmono, membenarkan bahwa persoalan air bersih pascabencana dipicu oleh rusaknya banyak jaringan distribusi air, terutama sarana Pamsimas.“Di Palembayan dan Tanjung Raya, banyak jaringan Pamsimas yang rusak sehingga warga kehilangan akses air bersih,” kata Rahmad saat dikonfirmasi, Jumat (23/1/2026).
Sebagai langkah darurat, BPBD menyalurkan toren air ke wilayah terdampak yang diisi setiap hari menggunakan mobil tangki.
“Toren yang kami distribusikan diisi rutin setiap hari agar warga tetap mendapatkan air bersih,” ujarnya.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T