KABUPATEN AGAM -- Air bah itu bukan hanya merobohkan rumah Rahmi Wiristya (37), tetapi juga meruntuhkan sebagian besar hidupnya. Dalam gelap, dalam lumpur, dalam tubuh yang sudah enam bulan tak mampu berdiri, ia memeluk dua anaknya sambil menunggu maut lewat di depan pintu.
Rahmi adalah salah satu tenaga harian lepas (THL) Dinas Pertanian Kabupaten Agam. Ia masih mengingat jelas, sejelas detak jantungnya saat itu, sore 27 November 2025. Suara gemuruh yang seperti datang dari perut bumi. Jeritan warga. Getaran tanah. Dan air pekat yang menerjang tanpa memberi satu detik pun waktu untuk bangun.
“Saya tak bisa lari, kaki saya ini sudah enam bulan tak bisa berdiri,” ucap Rahmi dengan suara yang pecah, Sabtu (6/12/2025).
Enam bulan terakhir, Rahmi hidup dengan kaki yang patah parah setelah ditabrak mobil boks sepulang memeriksa hewan kurban di Palembayan, tugasnya sebagai THL bidang peternakan. Ia mengalami patah kaki dan harus menjalani operasi di RS Ibnu Sina Bukittinggi. Sejak itu, ia tengah berjuang untuk sembuh, sambil menunggu proses seleksi P3K Paruh Waktu.
Namun pada hari ketika galodo datang, semua perjuangan itu seolah tak berarti. Di kamar kecil tempat ia beristirahat, Rahmi hanya bisa duduk lemah, memeluk erat Abdi (7) dan Asraf (5), saat arus lumpur masuk memecah dinding rumah mereka.
“Airnya langsung setinggi dada. Saya cuma bisa tarik anak-anak, sambil bilang maafkan ibu kalau kita nggak selamat,” katanya, air mata jatuh satu-satu, seperti menyisakan sisa-sisa keberanian yang ia punya malam itu.Air menyeret mereka berulang kali. Kamar tempat mereka berlindung bergetar, retak, namun entah bagaimana tetap bertahan saat seluruh rumah sudah hancur. Rahmi hanya bisa menahan dua anaknya di antara pecahan kayu, lumpur, dan dingin yang menusuk.
Ketika air mulai surut, Rahmi masih terbaring di lantai, tak mampu bangun. Ia meraba tubuh anak-anaknya yang kaku dan penuh lumpur. Baru ketika ia memeluk mereka, keduanya membuka mata pelan. Masih hidup. Masih bernapas.
“Tapi di luar kamar itu, sunyi,” katanya lirih.
Sunyi yang ia maksud adalah hilangnya suara suaminya, Romi (40). Hilangnya panggilan mertuanya, Misdiati. Hilangnya tangis bayi kecil keluarga mereka.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T