Kerusakan terparah teridentifikasi di Kecamatan Palembayan, Tanjung Raya, Malalak, dan Baso, yang menjadi titik paling kritis akibat terjangan material dan besarnya volume air.
Tim gabungan masih melakukan asesmen lanjutan untuk memastikan skala kerusakan dan kebutuhan prioritas di lapangan.
Total estimasi kerugian akibat rangkaian bencana di Kabupaten Agam mencapai Rp59,82 miliar, berdasarkan pendataan sementara dari sejumlah OPD terkait. Kerugian terbesar tercatat pada sektor infrastruktur jalan dan jembatan yang ditangani PUTR, mencapai Rp24,23 miliar, disusul kerusakan rumah warga sebesar Rp18,77 miliar, serta sektor pertanian, irigasi, dan ternak yang ditaksir Rp12,31 miliar. Di sektor pendidikan, Disdikbud mencatat kerusakan sekolah senilai Rp3,08 miliar, sementara sektor perikanan yang ditangani DKPP turut menanggung kerugian mencapai Rp1,41 miliar.
Pemkab Agam menegaskan bahwa angka tersebut masih bersifat sementara dan berpotensi bertambah seiring pendataan lanjutan di wilayah yang sebelumnya sulit diakses akibat terputusnya jalur dan cuaca ekstrem.
Sektor pertanian menjadi salah satu yang paling terpukul dengan total 829,81 hektare lahan tanaman pangan dan hortikultura rusak, terutama di Tanjung Raya (353 ha), Tilatang Kamang (121,7 ha), Palembayan (89,25 ha), dan Baso (79,58 ha).
Bencana ini juga menyebabkan ribuan ternak hilang dan mati, terdiri dari 132 sapi, 22 kerbau, dan 2.000 ayam petelur, dengan Palembayan menjadi wilayah dengan kerugian peternakan terbesar.
Selain itu, 11 titik irigasi serta 3 Jalan Usaha Tani (JUT) mengalami kerusakan berat yang menghambat aktivitas pertanian masyarakat. Total kerugian sektor pertanian ditaksir mencapai Rp12,3 miliar.Pemerintah Kabupaten Agam menyatakan pendataan masih terus berlangsung, terutama di wilayah yang aksesnya sulit seperti Palembayan, Malalak, dan Tanjung Raya.
Upaya pencarian korban hilang juga terus dilanjutkan oleh tim gabungan BPBD, Basarnas, TNI-Polri, relawan, serta masyarakat.
Sementara itu, bantuan logistik, kebutuhan dasar, dan layanan kesehatan mulai didistribusikan ke lokasi pengungsian dengan prioritas daerah terisolasi. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T

