Di sudut Kota Bukittinggi, tepatnya di daerah Tabek Gadang, Kecamatan Aur Birugo Tigo Baleh (ABTB), terlaksana lah sebuah bincang-bincang ringan yang penuh makna.
Kecakapan anak buah dalam memahami perintah pimpinan menjadi awal mula perbincangan. Anak buah yang pintar bisa saja salah dalam menerjemahkan maksud pimpinan.
Anak buah yang salah dalam menerjemahkan maksud pimpinan akan bisa menimbulkan masalah baru. Karena itu, pintar saja tak cukup jika tidak memiliki kecerdasan.
“Pintar Tapi Tak Cukup Cerdas Menjadi Sebuah Keniscayaan,” ujar Ketua Syarikat Islam (SI) Kota Bukittinggi, Tuanku Rismaidi pada diskusi, Sabtu siang (24/1/2026).
Di ruang kelas, mereka yang mendapat nilai tinggi sering disebut pintar. Di kehidupan nyata, mereka yang mampu keluar dari masalah rumit sering dijuluki cerdas.
Dua kata ini kerap dipakai bergantian, padahal keduanya punya makna yang berbeda dan perbedaan itu bisa menentukan bagaimana seseorang melangkah dalam hidup.Pintar merupakan Buah dari Proses dan Ketekunan. Pintar lahir dari bangku belajar.
Hal itu dibentuk oleh buku, guru, latihan soal, dan disiplin. Orang pintar menguasai teori, hafal rumus, paham konsep, dan mampu menjawab ujian dengan tepat.
Kepintaran adalah hasil proses, siapa pun bisa mencapainya dengan usaha dan ketekunan.
Mereka unggul dalam dunia akademik. Nilai rapor bersinar. Sertifikat berderet. Tapi kepintaran sering bekerja di jalur yang sudah tersedia, menerapkan apa yang telah dipelajari.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T