Malam Mencekam di Maninjau
Aliran Batang Muaro Pisang mendadak mengering, Rabu (31/12/2025) malam. Fenomena tak biasa itu memicu kepanikan. Dugaan kuat, aliran air tersumbat di bagian hulu dan dikhawatirkan sewaktu-waktu jebol dan memicu galodo.
Ketegangan kian meningkat ketika listrik padam di kawasan itu. Dalam gelap, warga memilih mengungsi, menjauh dari bantaran sungai. Simpang Jalan Kelok Satu dipadati warga yang berjaga. Pemuda setempat bahkan menghambat akses jalan, mencegah kendaraan melintas demi menghindari risiko jika banjir bandang datang mendadak tanpa peringatan.
Di tengah situasi genting itu, tak tampak rasa gentar dari Risma. Mantan Menteri Sosial RI itu memilih tetap berada di lokasi, hanya sekitar 50 meter dari aliran Batang Muaro Pisang.
Malam itu, ia memutuskan menginap di Penginapan Danau Impian, kawasan Maninjau. Keputusan yang diambil di tengah gelap, ketika tanda-tanda bahaya mulai terasa, meski belum ada hujan yang turun.
Kekhawatiran itu akhirnya menjadi kenyataan. Tanpa peringatan, air sungai mendadak naik. Kamis dini hari (1/1/2026), banjir bandang menerjang Maninjau, menyeret lumpur, batu, dan batang kayu. Dalam hitungan jam, kawasan itu terisolasi hingga pagi menjelang.Risma berada sangat dekat dengan pusat kejadian saat air meluap. Namun ia tetap bertahan, menyaksikan langsung detik-detik mencekam yang selama ini hanya diceritakan warga.
Rencananya, Risma akan berada di Kabupaten Agam hingga Jumat (2/1/2026). Setelah itu, ia melanjutkan kunjungan ke Malalo, Kabupaten Tanah Datar, pada Sabtu (3/1/2026), sebelum kembali ke Jakarta pada Minggu.
Di Maninjau, Risma menunjukkan satu hal penting yaitu ada di tengah bencana, keberanian untuk hadir dan tetap tinggal bersama warga kerap menjadi penguat yang nilainya tak kalah besar dari bantuan apa pun. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T