KABUPATEN AGAM -- Tak banyak yang mengetahui, ketika hujan tak menentu dan ancaman bencana belum sepenuhnya reda, mantan Menteri Sosial RI pada Kabinet Indonesia Maju, Tri Rismaharini justru memilih berada di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sejak Rabu (31/12/2025) sore.
Ketua DPP PDI Perjuangan Bidang Penanggulangan Bencana itu datang didampingi anggota DPRD Provinsi Sumatera Barat Fraksi PDIP Sri Kumala Dewi, Bendahara DPD PDIP Sumbar Yogi Yolanda, serta jajaran pengurus lainnya.
Kehadirannya ke Kabupaten Agam untuk menyerahkan bantuan sekaligus meninjau langsung kondisi warga di lokasi bencana.
Sore hari saat tiba di Posko DPC PDIP Kabupaten Agam, ibu Risma langsung berbaur dengan warga. Perempuan kelahiran Kediri itu duduk di dapur darurat, memasak rendang bersama masyarakat dan relawan. Tanpa jarak dan tanpa protokoler, percakapan mengalir di sela kepulan asap dan denting alat masak, sebuah potret kebersamaan sederhana di tengah situasi sulit.
Menjelang waktu maghrib, Risma bergeser ke Masjid SMPN 1 Maninjau. Di sana, ia duduk bersama anak-anak pengungsi, berbincang ringan sembari membagikan bantuan berupa pakaian anak-anak, sajadah, dan mukena. Kehadirannya menghadirkan suasana hangat dan rasa aman bagi mereka yang masih harus bertahan di pengungsian.
Usai Isya, kegiatan Risma berlanjut ke Kampung Ujung, Jorong Kubu Gadang, Nagari Maninjau, yakni lokasi pengungsian warga Jorong Labuah, Nagari Sungai Batang. Di hadapan warga, Risma tak hanya mendengar keluh kesah, tetapi juga menawarkan bantuan yang bersifat jangka panjang. Salah satunya melalui program beternak ayam sebagai upaya membantu pemulihan ekonomi keluarga pascabencana.
Di sela-sela kunjungannya, Risma juga berdialog dengan masyarakat mengenai pentingnya mitigasi bencana. Ia menjelaskan langkah-langkah sederhana namun krusial untuk meminimalkan risiko, terutama di wilayah rawan banjir dan longsor seperti kawasan sekitar Danau Maninjau.Pengalaman panjangnya sebagai mantan Wali Kota Surabaya terasa dalam setiap penjelasan dengan praktis, membumi, dan mudah dipahami.
Bagi Risma, kenginan mendengar langsung suara warga, apa yang mereka butuhkan, apa yang masih kurang, dan bagaimana mereka bertahan di masa pemulihan yang belum sepenuhnya usai.
Keinginan itulah yang membuat perempuan berusia 64 tahun ini tetap bertahan di Maninjau, meski tanda-tanda bahaya mulai muncul.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T