Kabupaten Agam sedang memasuki era baru komunikasi publik. Bukan lagi melalui media massa yang berimbang, tapi lewat story dan postingan Facebook para pejabat.Oleh: ANIZUR, SH
Dinas Kominfo Agam terlihat sangat aktif membuat desain, mengolah video, menyusun narasi. Hasilnya tayang di kanal resmi pemerintah, tapi juga menyebar di akun pribadi para pejabat.Kini, para pejabat tampil seperti etalase promosi. Feed mereka berisi dokumentasi kegiatan Bupati, program unggulan, dan kutipan motivasional. Semuanya rapi, manis, dan komunikatif. Jelas dikerjakan tim profesional. Dan memang, itu karya Kominfo.
Tapi ironisnya, konten-konten ini tidak banyak menjangkau media massa, padahal media mampu menyampaikan informasi lebih luas, kritis, dan objektif. Kerja sama dengan media cetak, online, atau elektronik nyaris tak terdengar. Publik pun hanya bisa menggulir layar medsos para pejabat untuk tahu kabar pembangunan.Situasi ini ibarat dapur lengkap, koki hebat, tapi masakannya hanya dihidangkan untuk kalangan terbatas. Media dibiarkan lapar. Masyarakat hanya mendapat serpihan informasi yang cenderung satu arah, penuh pujian, minim ruang diskusi.
Padahal, UU Pers, UU KIP, dan UU ITE menegaskan pentingnya transparansi dan akses informasi publik yang bisa dipertanggungjawabkan. Yang penting sekarang: banyak yang like, share, dan komentar positif. Soal apakah masyarakat paham atau tidak? Itu urusan belakangan.Menariknya, bukan cuma pejabat yang aktif. Beberapa tokoh yang dulu dikenal sebagai tim sukses juga ikut rajin posting. Seolah memberi sinyal bahwa komunikasi hari ini sudah bersinggungan dengan komunikasi politik masa depan.Kominfo? Tetap kerja keras. Tapi kini lebih seperti tim kreatif di balik layar.Media? Dibiarkan tanpa panggung.
Publik? Scroll saja. Tapi jangan terlalu berharap bisa bertanya.*Tulisan ini merupakan opini pribadi dan pengamatan terhadap dinamika komunikasi publik di daerah. Bukan untuk menyerang pihak manapun, melainkan sebagai bentuk refleksi atas peran media, pemerintah, dan masyarakat dalam membangun ruang informasi yang sehat dan tulisan ini dipublikasikan dalam rangka literasi media dan komunikasi publik. ***
Editor : Mangindo Kayo

