Dalam surat dari pihak terkait juga ditegaskan, apabila proses pembaruan kerja sama belum rampung hingga penandatanganan kontrak baru, maka sejak 22 Maret 2026 penebusan BBM ke SPBU tersebut resmi dihentikan alias stop operasional.
Kondisi ini praktis memutus salah satu jalur distribusi BBM di Lubuk Basung, yang berdampak langsung pada kelangkaan di lapangan.
Menariknya, isu yang beredar di masyarakat sempat mengaitkan kelangkaan ini dengan kondisi global, termasuk ketegangan di Selat Hormuz. Namun faktanya, hal itu tidak ada kaitannya.
Indonesia sendiri selama ini lebih banyak mengimpor BBM dari negara seperti Singapura dan Malaysia. Singapura bahkan dikenal sebagai pusat kilang yang menyuplai kebutuhan BBM Indonesia, disusul Malaysia, China, Korea Selatan hingga negara lain seperti Arab Saudi dan Amerika Serikat.
Artinya, krisis BBM di Lubuk Basung saat ini lebih disebabkan persoalan lokal, bukan karena gejolak internasional.Kini, masyarakat hanya bisa berharap ada solusi cepat dari pihak terkait agar distribusi BBM kembali normal. Jika tidak, bukan tak mungkin kondisi ini akan semakin memicu kepanikan dan berdampak luas pada perekonomian warga. (*)
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T

