KETEGANGAN Geopolitik Di Timur Tengah Kembali Memanas Setelah Serangan Mendadak Israel Dan Amerika Serikat Ke Iran Pada 28 Februari 2026 Mengguncang Pasar Global. Dampaknya Langsung Terasa Pada Harga Emas Yang Melesat Sebagai Aset Safe Haven Dan Para Analis Memprediksi Harga Emas Akan Terus Meroket. Pengamat Komoditas Ibrahim Assuaibi Memperkirakan Lonjakan Signifikan Dengan Harga Emas Dunia Di US$ 5.278 Per Troy Ons Pada 27 Februari. Pasca Serangan Harga Bergerak Ke US$ 5.280 Dan Ibrahim Menilai Ini Baru Awal Dari Kenaikan Lebih Besar. Investor Perlu Mencermati Pergerakan Ini Karena Volatilitas Tinggi Bisa Memberi Peluang Sekaligus Risiko.
Tabel Proyeksi Harga Emas Pekan Ini
Berikut proyeksi lengkap harga emas dunia dan logam mulia dalam negeri versi Ibrahim Assuaibi.
| Periode | Harga Emas Dunia | Harga Logam Mulia |
|---|---|---|
| Penutup Jumat (27/2) | US$ 5.278 | Rp 3.085.000 |
| Proyeksi Senin (2/3) | US$ 5.365 | Rp 3.150.000 |
| Proyeksi Selasa (3/3) | US$ 5.420 | Rp 3.220.000 |
| Proyeksi Rabu (4/3) | US$ 5.475 | Rp 3.290.000 |
| Proyeksi Pekan Depan | US$ 5.500 | Rp 3.400.000 |
Tabel di atas menunjukkan proyeksi bertahap selama sepekan. Kenaikan dipicu eskalasi konflik dan permintaan safe haven global.
Proyeksi Harga Emas Pekan Ini
Ibrahim memproyeksikan dalam sepekan harga emas dunia berpotensi menyentuh US$ 5.500 per troy ons. Kenaikan ini akan berdampak langsung pada harga logam mulia di dalam negeri.
"Resisten pertama di US$ 5.365 pada Senin, 2 Maret 2026," ujarnya. Dalam sepekan, harga logam mulia diprediksi mencapai Rp 3,4 juta per gram.
Investor perlu mencermati pergerakan ini. Volatilitas tinggi bisa memberi peluang sekaligus risiko.
Eskalasi Konflik Iran-AS-Israel
Ibrahim menjelaskan serangan Israel-AS ke Iran menciptakan babak baru ketegangan. Pertemuan delegasi AS dan Iran di Jenewa sebelumnya gagal mencapai kesepakatan.
Iran menolak membahas program misilnya di luar isu nuklir. "Trump mengalami kekecewaan berat. Wajar jika terjadi perang, ini memicu ketegangan tersendiri," kata Ibrahim.Situasi diperkirakan melibatkan lebih banyak aktor. China dan Rusia berpotensi mendukung Iran, sementara AS-Israel terus melancarkan serangan.
"Ini awal babak baru perang Maret 2026 di Timur Tengah," tegasnya.
Editor : DA Sikumbang

