AGAM – Rangkaian bencana hidrometeorologi melanda Kabupaten Agam, Sumatera Barat, sejak November 2025. Curah hujan tinggi memicu banjir, banjir bandang, tanah longsor hingga angin kencang yang berdampak luas di 16 kecamatan.
Berdasarkan data Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Agam, bencana tersebut mengakibatkan ratusan korban jiwa dan kerusakan signifikan di berbagai sektor.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kabupaten Agam, Roza Syadefianti, S.STP, M.Sc, menyebut total kerugian dan kerusakan akibat bencana mencapai angka fantastis.
“Berdasarkan data sementara yang kami himpun, total kerusakan dan kerugian akibat bencana hidrometeorologi di Kabupaten Agam mencapai sekitar Rp 6,88 triliun,” kata Roza, Jumat (23/1/2026).
Dari sisi korban, tercatat sebanyak 166 orang meninggal dunia dan 36 orang dinyatakan hilang. Dari jumlah korban meninggal, 29 orang ditemukan dalam kondisi tidak teridentifikasi, sementara 19 korban ditemukan dalam bentuk potongan tubuh (body part). Selain itu, sebanyak 2.497 jiwa tercatat mengungsi akibat bencana.
Roza menjelaskan, dampak bencana terjadi hampir merata di sejumlah kecamatan, seperti Palembayan, Tanjung Raya, Matur, Ampek Nagari, Tanjung Mutiara, Tilatang Kamang, hingga kawasan perkotaan Lubuk Basung.“Jenis bencananya beragam, mulai dari banjir, banjir bandang, tanah longsor, hingga angin kencang. Ini menunjukkan tingginya kerentanan wilayah terhadap cuaca ekstrem,” ujarnya.
Dari sisi kerusakan, sektor perumahan menjadi yang paling terdampak dengan total kerugian dan kerusakan mencapai Rp 629,88 miliar.
Sementara itu, sektor infrastruktur mencatat dampak terbesar dengan total mencapai Rp 5,59 triliun, yang meliputi kerusakan jalan, jembatan, jaringan air, energi, telekomunikasi, hingga sarana air dan sanitasi.
Tak hanya itu, sektor ekonomi juga mengalami kerugian besar dengan total mencapai Rp 559,86 miliar, yang mencakup pertanian, perikanan, peternakan, perkebunan, perdagangan, pariwisata, koperasi dan UMKM.
Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T