Banjir Bandang Kembali Terjang Maninjau, Akses Lubuk Basung - Bukittinggi Lumpuh

×

Banjir Bandang Kembali Terjang Maninjau, Akses Lubuk Basung - Bukittinggi Lumpuh

Bagikan berita
Banjir Bandang Kembali Terjang Maninjau, Akses Lubuk Basung - Bukittinggi Lumpuh
Banjir Bandang Kembali Terjang Maninjau, Akses Lubuk Basung - Bukittinggi Lumpuh

KABUPATEN AGAM -- Banjir bandang kembali menerjang kawasan Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatera Barat. Sungai Batang Muaro Pisang meluap membawa material lumpur, batu, dan kayu hingga menghantam permukiman warga serta menutup akses jalan Lubuk Basung-Bukittinggi, Kamis (1/1/2026) dini hari.

Terlihat dari atas kondisi aliran sungai di kawasan Maninjau. Foto Anizur
Terlihat dari atas kondisi aliran sungai di kawasan Maninjau dan menyebabkan akses jalan terputus. Foto Anizur

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Agam, Abdul Ghafur, mengatakan banjir bandang dipicu material longsor dari perbukitan di hulu sungai yang mengubah alur aliran air.

“Dari hasil pantauan kami, tidak ada genangan air dari hulu. Namun longsoran yang terjadi tadi malam membuat aliran sungai berubah. Material menutup alur lama dan membentuk aliran baru ke arah depan BRI lama,” kata Abdul Ghafur kepada BacalahNews.com, Kamis pagi.

Ia menjelaskan, berdasarkan pantauan udara menggunakan drone BPBD Agam di Sungai Muaro Pisang, Jorong Pasa Maninjau, terlihat aliran sungai dipenuhi material lumpur, batu, dan kayu. Kondisi terparah berada di Jorong Kuok Tigo Koto, Nagari Matua Mudiak, lokasi tebing longsor.

“Akibat perubahan alur ini, aliran air tidak lagi melewati jembatan Sungai Batang Pisang. Material akhirnya meluber ke badan jalan dan kawasan permukiman,” jelasnya.

Meski demikian, banjir bandang kali ini tidak menimbulkan korban jiwa. Staf Kantor Camat Maninjau, Evi Yuliendra, menilai hal tersebut tidak terlepas dari kewaspadaan warga sejak malam sebelumnya.

“Sejak Rabu malam, aliran Batang Muaro Pisang mendadak mengering. Itu tanda yang tidak biasa dan membuat warga waspada,” ujar Evi.

Fenomena tersebut memicu kekhawatiran warga akan adanya sumbatan di bagian hulu sungai. Warga menduga bendungan alami tersebut bisa jebol sewaktu-waktu dan memicu galodo.

Dalam kondisi gelap akibat listrik padam, warga memilih mengungsi dan menjauh dari bantaran sungai. Simpang Jalan Kelok Satu sempat dipadati warga yang berjaga. Para pemuda setempat bahkan menghambat akses jalan dan mencegah kendaraan melintas demi mengurangi risiko jika banjir bandang datang secara tiba-tiba.

“Kesigapan warga patut diapresiasi. Ini yang membuat tidak ada korban jiwa meskipun material yang dibawa banjir cukup besar,” kata Evi.

Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T
Bagikan

Berita Terkait
Terkini