Acara di Cafe Kapecong itu pun membuktikan satu hal, Yelrizon bukan hanya seorang pejabat, melainkan sosok ayah, kakak, sekaligus guru bagi bawahannya.Perpisahan itu bukan akhir. Bagi Yelrizon, hari-hari ke depan adalah babak baru, menjadi saksi dari jauh, melihat “anak-anaknya” tumbuh, sambil berharap nilai keikhlasan dan ketaatan pada aturan tetap mereka bawa.
Siang itu, Cafe Kapecong tidak hanya menyimpan cerita tentang seorang camat yang pensiun. Ia menyimpan pesan abadi, bahwa kepemimpinan sejati selalu meninggalkan jejak di hati, bukan hanya di lembaran administrasi. (Aa) Editor : Mangindo KayoAir Mata dan Kata yang Tersendat
| 151 klik
Berita Terkait