PADANG PANJANG – Desa Wisata Kubu Gadang terus menjadi ikon menarik bagi mahasiswa maupun wisatawan untuk menggelar berbagai kegiatan. Kali ini, Tim Pengabdian Universitas Negeri Padang (UNP) dari Program Studi Sastra Inggris melaksanakan kegiatan di desa tersebut melalui skema Program Integrasi Prodi dan Nagari (PIPN).Kegiatan ini mengusung tema Pendampingan Pembuatan Linguistics Landscape Berbahasa Inggris sebagai upaya menuju pariwisata internasional berbasis adat.
Koordinator Program Studi Sastra Inggris UNP, Nur Rosita mengatakan, pihaknya memilih Kubu Gadang karena memiliki suasana sejuk, area yang luas, Pokdarwis yang aktif, serta banyak atraksi wisata menarik.“Kegiatan ini memadukan bahasa Inggris dengan promosi pariwisata. Desa wisata tidak lepas dari peran bahasa Inggris sebagai alat komunikasi internasional (lingua franca) jika ingin dikenal lebih luas. Salah satu langkahnya adalah melakukan multilingualisasi lanskap linguistik pada tanda-tanda publik,” ujar Nur Rosita, Rabu (6/8/2025).
Program ini didanai Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UNP melalui dana internal, dengan melibatkan dosen Devy Kurnia Alamsyah, Anisa Nurjanah, dan Sari Fitria. Peserta kegiatan adalah Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kubu Gadang.Kegiatan dibuka Plt. Camat Padang Panjang Timur, Doni Rahman yang menyambut positif kolaborasi perguruan tinggi dengan masyarakat. “Bahasa Inggris adalah kunci untuk menarik wisatawan asing berkunjung ke Kubu Gadang,” ujarnya.Rangkaian kegiatan meliputi focus group discussion (FGD) bersama Pokdarwis dan wawancara dengan tetua adat setempat. Salah seorang tokoh adat menjelaskan setiap atraksi wisata di Kubu Gadang sarat makna filosofis Minangkabau. Misalnya, bajalan di ateh pamatang sawah yang melambangkan kehati-hatian dalam meniti kehidupan.Tim UNP juga melakukan survei langsung ke titik-titik atraksi bersama pendiri Desa Wisata Kubu Gadang, Yuliza Zen. Setiap lokasi akan dipetakan secara digital menggunakan geo tagging dan dilengkapi QR Code yang terhubung dengan deskripsi berbahasa Inggris.
“Dengan teknologi ini, wisatawan asing akan lebih mudah memahami informasi terkait atraksi. Kami berharap kolaborasi pentahelix terus berlanjut demi menjaga ekosistem kerja sama,” tutup Nur Rosita. (rls/pdp)
Editor : Mangindo Kayo
