5. IrlandiaDi Irlandia, pemerintah merekrut hingga 40.000 pekerja non-Uni Eropa tiap tahun untuk menjawab krisis di bidang perhotelan dan konstruksi.
6. IndiaIronisnya, India yang dikenal sebagai negara dengan bonus demografi, justru masuk dalam daftar ini.
Dengan tingkat kekurangan tenaga kerja terampil sebesar 81%, India menghadapi masalah ketimpangan keterampilan, populasi besar tidak serta-merta menghasilkan tenaga kerja siap pakai untuk industri manufaktur dalam dan luar negeri.7. Prancis dan Brasil
Di Prancis, kekurangan tenaga kerja menghambat pengembangan sektor hidrogen yang tengah digenjot menuju 2030, sementara di Brasil, defisit terjadi di sektor kesehatan dan teknologi informasi.8. Kanada dan Inggris
Kanada mengandalkan kebijakan imigrasi permanen untuk menambah tenaga kerja di sektor STEM dan kesehatan, seiring populasi lansia yang terus meningkat.Sementara Inggris, pasca-Brexit, mendorong sistem imigrasi berbasis poin yang kini justru membuka lebih banyak peluang bagi pekerja dari luar Uni Eropa, terutama untuk sektor sosial dan software engineering.
9. Singapura dan Hong KongWilayah Asia juga bergejolak. Hong Kong merelaksasi aturan imigrasi untuk menutupi kekurangan pekerja di sektor konstruksi dan penerbangan.
Di Singapura, tenaga profesional di sektor teknologi, perbankan, dan teknik semakin sulit ditemukan.Pemerintah secara aktif membuka peluang bagi pekerja asing, terutama di bidang IT yang paling terdampak.10. Rumania dan SlovakiaSementara itu Rumania dan Slovakia mencerminkan tantangan serupa di Eropa Timur.
Kedua negara ini mengalami stagnasi tenaga kerja muda, sementara permintaan di sektor otomotif, logistik, dan manufaktur terus tumbuh.Banyak dari mereka kini merekrut pekerja dari India dan Asia Selatan demi mempertahankan kapasitas produksi. ***
Editor : Mangindo Kayo
