Dalam sejarahnya, stasiun ini dibangun bersamaan dengan pembangunan jalur kereta api Padang Panjang–Payakumbuh.
Namun tidak seperti jalur kereta api lainnya yang dibangun di Sumatera Barat yang memfokuskan diri untuk pengangkutan batu bara, jalur kereta api ini hanya digunakan untuk mengangkut biji kopi dan tentara dari Benteng Fort de Kock di Kota Bukittinggi.Untuk diketahui, alur kereta api ini, pembangunannya sepaket dengan pembangunan jalur Padang–Sawahlunto. Jalur menuju Fort de Kock Bukittinggi.
Dari Bukittinggi pembangunan dilanjut untuk menjangkau tambang emas yang berada di Payakumbuh.Jalur ini tetap beroperasi setelah masa-masa kemerdekaan, tetapi hanya difokuskan untuk pengangkutan penumpang.
Namun karena jalur kereta api yang ekstrem, prasarana dan sarana yang tua, serta persaingan dengan mobil pribadi dan angkutan umum yang kian ketat, menyebabkan jalur ini terus berkurang okupansinya.
Dengan ditutupnya jalur menuju Bukittinggi pada tahun 1986, berakhirlah riwayat jalur Padang Panjang–Payakumbuh.Untuk mengawali program reaktivasi dalam rangka menyambut jalur kereta api Trans-Sumatra, maka bangunan permukiman yang sudah marak sejak 1990-an memenuhi sekitar stasiun dan akhirnya mulai digusur pada akhir 2017 lalu.
Stasiun ini sekarang sudah memasang papan nama dengan logo baru PT KAI dan sudah direnovasi.Meski Stasiun Fort de Kock kini tinggal cerita, namun kebesaran namanya tetap diingat oleh warga Kota Bukittinggi.Stasiun Fort de Kock, dari jantung transportasi di jantung Pulau Sumatera, bermetamorfosis menjadi pusat kuliner bernama Lambung Station dan sekarang kembali hening.Stasiun Fort de Kock yang pernah jadi kebanggaan Rang Kurai, kini bak merenda nasib. Semoga ke depan, stasiun ini kembali bisa bergairah.
* Penulis Adalah Wakil Ketua DPRD Kota Bukittinggi dan juga seorang Pengamat Sosial Kemasyarakatan.
Editor : Mangindo Kayo

