KENAL dengan Lambung Station yang berada di Jalan Sudirman atau tepatnya di bekas Stasiun Kereta Api Bukittinggi?Sebutan bukanlah tanpa alasan, sebab daerah tersebut memang dikenal dengan sebutan Stasiun.
Setelah adanya penggusuran pemukiman yang menyesaki area tersebut, pada tahun 2017 lalu, kawasan tersebut pada tahun 2023 dibangun pusat kuliner yang diresmikan pada 6 Maret 2024.
Sehubungan dengan kebijakan efisiensi daerah serta outputnya yang jauh dari ekpektasi, maka terhitung di penghujung Mei 2025, Pasar Kuliner Stasiun Lambuang yang diklaim terbesar di Sumatera Barat itu, resmi ditutup.Terlepas dari hal tersebut di atas yang merupakan domain dari para pengambil kebijakan (dececion maker) yang ada di Kota Bukittinggi, mari kita secara spesifik berbicara tentang Stasiun Bukittinggi.
Sejenak kita lupakan tentang Lambung Station yang setahun terakhir cukup menggema di benak penyuka kuliner khas dari Kota Triarga tersebut.Area Lambung Station, dahulunya dikenal sebagai Stasiun Fort de Kock atau Stasiun Boekit Tinggi.
Stasiun yang pada masanya sempat menjadi stasiun utama di jantung Sumatera Barat itu, berada di kawasan Tangah Sawah, tepatnya di Tarok Dipo, Kecamatan Guguak Panjang.
- Lokasi : Jalan Muhammad Syafei 7 Tarok Dipo, Guguk Panjang, Bukittinggi, Sumatera Barat- Koordinat : 0°18′35″S 100°22′16″E
- Ketinggian : 920 m- Operator : Kereta Api Indonesia
- Divisi Regional II Sumatera Barat- Letak : km 94 567 lintas Teluk Bayur-Padang-Lubuk Alung-Padang Panjang-Bukittinggi-Payakumbuh
Stasiun dengan jenis struktur, atas tanah ini, termasuk dalam Klasifikasi II.Menurut catatan, stasiun yang dibuka pada 1 November 1891 dan mulai beroperasi pada 15 September 1896 ini, akhirnya ditutup 1986.
Editor : Mangindo Kayo

