Di samping Masjid, dibatasi sungai terdapat satu unit rumah dari sejumlah rumah yang hancur tak tersisa.Di sebelah rumah telah hancur tersebut terdapat sebuah rumah masih berdiri, meski terdampak Galodo Galuang. Tapi tidak menyebabkan kerusakan parah.
Di rumah bertingkat 2 ini lah, Em (60) salah satu dari saksi mata melihat kejadian menakutkan di malam waktu kejadian, dimana rumah warga luluh lantah diterjang air.Kak Em demikian sapaan akrab warga sekitar mencoba untuk tegar bercerita tentang peristiwa malam itu.
Suara serak dan sesekali mengusap air mata jatuh di pipinya mulai keriput ini, Em mengatakan, saat malam itu dirinya baru saja selesai shalat Isya."Mukena masih melekat ditubuh saya. Saat duduk di sajadah, saya merasakan dinding rumah bergetar dan terdengar aliran air sungai yang deras," ujar Em sambil menolehkan pandangannya ke sebuah areal tanah ditumpuki sampah kayu dan sebuah rumpun kayu sangat besar.
Nenek 2 cucu tinggal di rumah beserta anak dan minatunya ini, lalu menunjukkan jarinya ketumpukan sampah kayu dan rumpun kayu sangat besar dan berkata bahwa tadinya di situ terdapat sebuah rumah.
"Di situlah rumah saudara saya. Rumah yang bersebelahan dengan rumah saya ini, sudah tak tersisa puing-puingnya setelah dihantam air," ungkapnya dengan suara pelan.Em kembali mencoba mengulangi cerita di malam naas itu.
Kata Em, saat dirinya mendengar suara air deras, ia berada di lantai dua bangunan rumahnya, lalu berdiri dari duduknya dan menuju jendela rumah untuk melihat apa yang terjadi."Saat saya melihat ke jendela, rumah saudara saya di sebelah rumah saya tidak ada lagi. Begitu juga rumah-rumah warga lain yang berada di tepi aliran sungai," tutur Em dengan mata memerah.
Em mengaku saat peristiwa terjadi, dirinya masih dalam ke adaan sadar."Dinding rumah bergerak-gerak, saya takut ada ular. Saat saya lihat ke jendela, rumah saudara saya yang hancur tersebut, ditumpuki sampah kayu dan rumpun kayu," tuturnya.Aliran deras air yang terus mengalir itu, Em mengaku sedikit takut, karena tumpukan sampah kayu dan rumpun kayu berukuran sangat besar terus diterjang air."Sampah kayu dan rumpun kayu tersebut membentur ke diding rumah saya, lantaran terampung-apung di air," paparnya.
Em mengaku tidak menyangka bencana menimpa daerahnya."Syukur Alhamdulillah, kami selamat dari bencana itu. Padahal air sudah cukup tinggi mencapai diding rumah," ucapnya.
Bencana banjir terjadi Sumbar tersebut meliputi Kabupaten Agam, Kabupaten Tanah Datar, dan Kota Padang Panjang.Untuk Kabupaten Agam, hujan deras bahkan menyebabkan air sungai yang berhulu di Gunung Marapi meluap.
Editor : Mangindo Kayo
