ZAHIRUDDIN BABUR Baru Berusia 12 Tahun Saat Ayahnya Tewas Jatuh Dari Tebing Dan Ia Mewarisi Tahta Fergana Yang Dikelilingi Musuh. Ia Kehilangan Fergana Dan Tiga Kali Gagal Merebut Samarkand Sehingga Jadi Pengembara Di Pegunungan Hindu Kush. Ia Bertahan Hidup Dalam Gua Memakan Kulit Binatang Sambil Menulis Catatan Harian Yang Kelak Terkenal Sebagai Baburnama. Dari Puncak Gunung Ia Menatap Ke Selatan Ke Hindustan Tanah Kaya Yang Dijanjikan Leluhurnya. Tahun 1504 Ia Merebut Kabul Dan Menjadikannya Pangkalan Untuk Mewujudkan Mimpi Itu. Ia Kirim Mata-Mata Ke Delhi Dan Datangkan Ahli Meriam Dari Utsmaniyah Untuk Membawa Teknologi Baru.
Pangeran yang Kehilangan Segalanya
Zahiruddin Babur baru berusia 12 tahun saat ayahnya tewas jatuh dari tebing. Ia mewarisi tahta Fergana yang dikelilingi musuh.
Ia kehilangan Fergana dan tiga kali gagal merebut Samarkand. Obsesinya pada kota legendaris itu tak pernah terwujud.
Babur jadi pengembara di pegunungan Hindu Kush. Ia bertahan hidup dalam gua, memakan kulit binatang.
Di masa sulit itu, ia menulis catatan harian yang kelak terkenal sebagai Baburnama. Ia belajar arti loyalitas dan ketahanan.
Dari puncak gunung, ia menatap ke selatan. Hindustan, tanah kaya yang dijanjikan leluhurnya, mulai terlihat.Kabul dan Teknologi Baru
Tahun 1504, Babur merebut Kabul. Kota ini jadi pangkalan untuk mewujudkan mimpinya.
Ia kirim mata-mata ke Delhi untuk memetakan kekuatan musuh. Ia juga datangkan ahli dari Utsmaniyah.
Ustaz Ali Kuli dan Mustafa Rumi datang membawa teknologi meriam perunggu. Mereka juga ajarkan teknik menembak Janissari.
Babur mulai memadukan strategi stepa dengan senjata modern. Ia siap membawa perubahan ke India.
Editor : DA SikumbangSumber : Highlights Youtube Thalabul ilmi

