Benar atau tidak perkataan itu, yang jelas seorang juru bicara pedagang mengungkap, pada tahun-tahun sebelumnya mereka menyetor sejumlah uang ke kelurahan, tapi tidak di tahun ini.
“Sekarang tidak lagi. Kami memilih memberi kepada anak-anak yatim,” sebut seorang juru bicara tersebut.
Polemik kian tajam ketika warga menyoroti pola penertiban yang mereka nilai pilih kasih, karena di kawasan Belakang Balok dilarang, sementara di ruas jalan lain seperti Tarok, aktivitas serupa berjalan tanpa hambatan.
Setelah penyampaian aspirasi, sejumlah pedagang kemudian meninggalkan gedung dewan dengan tertib, setelah pimpinan menyampaikan aspirasi dilanjutkan esok hari dan berjanji bakal menghadirkan pimpinan dari eksekutif. (*) Editor : Hamriadi, S. Sos., S. T
