Dari Jam Gadang ke Bintang di Pundak, Jejak Tangguh Kombes Yessi di Kota Seribu Cerita

×

Dari Jam Gadang ke Bintang di Pundak, Jejak Tangguh Kombes Yessi di Kota Seribu Cerita

Bagikan berita
Dari Jam Gadang ke Bintang di Pundak, Jejak Tangguh Kombes Yessi di Kota Seribu Cerita
Dari Jam Gadang ke Bintang di Pundak, Jejak Tangguh Kombes Yessi di Kota Seribu Cerita
DPC PJS Kota Bukittinggi

BUKITTINGGI — Di jantung Sumatera Barat, berdiri Jam Gadang, seperti penjaga waktu yang enggan letih. Ia tidak bicara, tapi ia mencatat. Catatan panjang tentang kota, rakyatnya, dan kini tentang seorang perempuan bernama Kombes Pol. Yessi Kurniati, SIK., MM.Di balik elegan lanskap Bukittinggi yang memeluk Gunung Marapi dan Singgalang, berdiri sosok perempuan dengan mata tajam, senyum tenang, dan tekad sekeras karang.

Dialah Kapolresta Bukittinggi, wanita pertama berpangkat Komisaris Besar yang memimpin institusi ini. Ironis dan indah, karena Bukittinggi bukan kota sembarangan, di sinilah Polwan pertama Indonesia lahir.Sebuah lingkar sejarah yang menakjubkan. Seolah waktu sengaja kembali, bukan untuk mengulang, tapi untuk melanjutkan.

“Saya Tidak Pernah Belajar Menyerah”

Di ruang kerjanya yang sederhana namun sarat simbol, Kombes Yessi menyambut dengan senyum bersahaja. Ada foto-foto keluarga, pigura prestasi, dan tentu saja, aura ketegasan yang tidak dibuat-buat."Sejak kecil, saya sudah biasa hidup dalam kesederhanaan," katanya. Suaranya tenang, tapi penuh bobot. Seperti seseorang yang pernah melewati badai, dan tetap bisa menyapa mentari esok hari.

Ia lahir dari pasangan abdi negara, ayah seorang polisi, ibu seorang bidan. Dari keduanya, Yessi kecil menyerap nilai kejujuran, etika, dan ketekunan.“Saya anak pertama, dan dari kecil sudah terbiasa bantu ibu seusai sekolah, sambil tetap mengaji. Waktu bermain saya tidak banyak, tapi saya tidak menyesalinya. Hidup mengajarkan saya lebih cepat,” kisahnya sambil tersenyum tipis.

Menyulam Karier, Satu Jahitan Tegas Sekaligus LembutKariernya bukan komet yang melesat, tapi bintang yang konsisten bersinar. Ia memulai dari bawah: Kasubdit Kamsel Ditlantas Polda Sumbar, Ka SPKT, Kasetum, lalu menjabat Wakapolresta Bandara Soekarno-Hatta dan Wakapolresta Padang. Setiap jabatan adalah fase, bukan pameran. Setiap pengalaman adalah tempaan, bukan panggung.

Saat dilantik sebagai Kapolresta Bukittinggi, 23 Desember 2022, Yessi tak hanya mencatat sejarah sebagai perempuan pertama di posisi itu, tapi juga membuka jalan bagi generasi baru, bahwa perempuan bisa memimpin, tanpa kehilangan nurani."Pemimpin bukan soal memerintah, tapi soal memberi contoh," tegasnya. “Saya tidak ingin dihormati karena jabatan, tapi karena tindakan.”

Kapolresta di Kota Polwan Pertama, Takdir atau Takluk?Ada sesuatu yang nyaris puitis dari kisah ini. Kota kelahiran Polwan pertama Indonesia, Bukittinggi, kini dipimpin oleh seorang Polwan berpangkat tertinggi di kota itu. Takdir? Mungkin. Tapi yang lebih pasti, ini buah dari kerja keras, bukan sekadar keberuntungan.

“Jangan pernah anggap perempuan hanya pelengkap. Kami bisa setangguh siapa pun, selama diberi ruang dan kesempatan,” ujarnya.Antara Peluit dan Pelukan

Meski menyandang pangkat Komisaris Besar, Yessi tetap perempuan Minang yang menyatu dengan adat dan budaya. Ia sesekali turun langsung ke pasar, berbincang dengan pedagang, mendengar keluh-kesah warga tanpa pengawal berlebih.Di satu sisi, ia memimpin pasukan. Di sisi lain, ia menjadi inspirasi. Bagi anak-anak muda, terutama perempuan, ia adalah contoh nyata bahwa keberanian tak selalu berteriak, kadang ia hanya berdiri tenang dan bekerja dalam diam.

Editor : Mangindo Kayo
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini
PMI Bukittinggi