181 Kali Menyelamatkan Hidup, Kisah Afdal Datuk Bandaharo, Pejuang Tanpa Seragam

×

181 Kali Menyelamatkan Hidup, Kisah Afdal Datuk Bandaharo, Pejuang Tanpa Seragam

Bagikan berita
181 Kali Menyelamatkan Hidup, Kisah Afdal Datuk Bandaharo, Pejuang Tanpa Seragam
181 Kali Menyelamatkan Hidup, Kisah Afdal Datuk Bandaharo, Pejuang Tanpa Seragam
DPC PJS Kota Bukittinggi

BUKITTINGGI – Di tengah gegap gempita peringatan Hari Donor Darah Sedunia yang digelar Minggu pagi (15/6/2025) di lapangan Wirabraja Kodim 0304/Agam, satu sosok mencuri perhatian bukan karena seragam atau pangkat, tapi karena ketulusan.Namanya Afdal Datuk Bandaharo, akrab disapa Pak Datuk. Usianya kini 57 tahun. Ia bukan pejabat, bukan pesohor. Tapi darahnya, secara harfiah, telah menyelamatkan nyawa manusia sebanyak 181 kali, sejak ia pertama kali mendonor pada tahun 1984.

"Orang takut jarum suntik, saya tidak begitu. Tapi saya lebih takut kalau tidak bisa membantu sesama," katanya lirih, namun tegas, sembari tersenyum.Dari ‘Iseng’ Jadi Tekad

Kisahnya dimulai saat duduk di bangku kelas 3 SMP. Ketika itu, ada kegiatan donor darah di sebuah pameran PMI di Bukittinggi. Umurnya baru 16 tahun, terlalu muda untuk mendonor secara resmi.“Saya ikut-ikutan saja awalnya, karena dengar ada pasien yang butuh darah. Saya tahu saya masih pakai celana pendek, belum boleh. Tapi keinginan itu sudah tumbuh,” kenangnya.

Yang dilakukan Afdal bukan sekadar aksi remaja iseng. Itu adalah benih kecil dari sebuah dedikasi seumur hidup. Sejak saat itu, ia tak pernah benar-benar berhenti.Donor: Dari Rutinitas Jadi Panggilan

Kini, setelah lebih dari empat dekade, rutinitas itu menjadi bagian dari hidupnya. Ia tahu persis cara tubuhnya bereaksi saat jarum menembus kulit. Tapi ia tetap lakukan dengan mata tertutup dan doa sederhana.“Dulu saya suka minta izin buat teriak waktu ditusuk. Itu cara saya menenangkan diri. Sekarang, saya cuma pejam mata, dan ingat siapa yang mungkin sedang menunggu,” ujarnya sambil tersenyum kecil.

 

181 Kali Donor: Bukan Tentang AngkaPada 2011, Afdal menerima Satyalencana Kebaktian Sosial dari Presiden SBY, sebagai penghargaan atas 100 kali donor. Tujuh tahun kemudian, ia kembali hadir di Istana Negara atas undangan Presiden Jokowi dalam upacara HUT RI ke-73.

Tapi bagi Afdal, penghargaan bukanlah puncaknya.“Yang penting bukan medali atau sertifikat. Tapi waktu kamu tahu, darahmu bisa jadi hidup buat orang lain. Itu rasanya… tak tergantikan,” katanya pelan.

Darah, Thalassemia, dan HarapanMakna donor darah semakin mendalam ketika ia bekerja di ruang gawat darurat selama tiga tahun. Ia menyaksikan langsung perjuangan pasien, terutama mereka yang mengidap Thalassemia, penyakit kelainan darah yang menuntut transfusi rutin seumur hidup.

“Kadang satu kantong darah bisa jadi penentu. Kalau tak ada yang mendonor hari itu, satu nyawa bisa melayang,” ucap Afdal, menahan haru.Sebagai pemilik golongan darah O, yang dikenal sebagai ‘donor universal’, ia tahu bahwa darahnya bisa diberikan kepada hampir siapa pun. “Jadi kenapa tidak saya berikan terus?”

Editor : Mangindo Kayo
Tag:
Bagikan

Berita Terkait
Terkini
PMI Bukittinggi